Apollon on The Slope, Kisah untuk Penikmat Musik Jazz dan Penggemar Pria Berdarah Panas!

Judul: Apollon on the Slope

Pengarang: Kodama Yuki

Alih Bahasa: Miranti Artarina

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

 

Kisah tentang persahabatan, cinta, dan musik jazz terangkum manis dalam manga karya Kodama Yuki yang berjudul Sakamichi no Apollon atau Kids on The Slope, dan penerbit Elex Media Komputindo “meng-indonesia-kan” judulnya menjadi Apollon on The Slope (walapun sejatinya saya lebih prefer Anak-anak di Landai, kesannya jadi agak mirip dengan kisah-kisah setipe Laskar Pelangi lol).

Sakamichi.no.Apollon.full.1553312Pertama kali saya membaca judul manga ini, saya sempat bertanya-tanya apa itu Apollon?

Ketika saya mencoba mencari maknanya, Apollon ternyata adalah nama dewa Yunani dan sering dipakai untuk menamai anak laki-laki. Secara garis besar, Apollon bermakna manly beauty, artinya anak laki-laki yang gagah dan tampan (ini hanya spekulasi saya semata, menurut saya nama Apollon dipakai karena penulisnya saat sedang membuat komik ini sedang dalam kondisi mengandung. Mungkin dia sedang mencari nama yang cocok untuk calon bayinya dan voila! nama inipun muncul).

Penggunaan kata Apollon ini merujuk pada dua tokoh utama dalam kisah tersebut, Kaoru Nishimi dan Sentaro Kawabuchi. Kaoru adalah murid SMA pindahan yang kaya raya dan pandai. Menjadi seorang siswa yang suka berpindah-pindah sekolah sejak kecil membuatnya menjadi pribadi yang penyendiri sehingga tidak punya teman. Tapi kehidupannya berubah saat ia mengenal rekan sekelasnya yang berandal dan terkenal suka berkelahi bernama Sentaro. Awalnya Kaoru merasa tidak nyaman dengan kehadiran Sen karena reputasinya yang buruk, namun melalui pria itu, Kaoru mengenal arti persahabatan, cinta, dan musik jazz.

Kisah ini tidak hanya berputar di dua tokoh tersebut, ada pula Ritsuko, teman sejak kecil Sen yang ditaksir Kaoru, Abang Jun, pria pemain saxophone yang karismatik, dan Yurika, perempuan anggun penikmat seni.

mapollon-004_074-075

Menurutku, kisah ini menjadi spesial karena ada sentuhan musik jazz di dalam plotnya. Mangaka-nya sangat jelas melakukan riset terlebih dahulu tentang musik jazz sehingga dapat memilihkan lagu-lagu jazz yang cocok dengan tiap adegan dalam kisah ini tanpa harus fokus pada istilah-istilah musik yang jelimet. Ia juga bahkan lebih banyak memasukkan unsur black jazz ketimbang white jazz karena alasan pendekatan psikologis antara kisah dan sejarah black jazz itu sendiri. Suatu hal yang cukup hebat mengingat Kodama bukanlah penikmat musik jazz.

Kisah antara Kaoru dan Sentaro mungkin akan sedikit menarik perhatian para fujoshi (cinta dan persahabatan antarpria memang beda tipis *ups*), walaupun keduanya murni sahabat atau istilah kerennya saya sebut jazzbros. Tapi lepas dari “pemikat sampingan” itu, Sakamichi no Apollon memperkenalkan pembacanya tentang betapa menyenangkan (dan kerennya) musik jazz. Misalnya saat Kaoru mencoba untuk mengulik lagu jazz Moanin’ karya Art Blakey & Jazz Messengers. Ia sampai dibuat kelimpungan untuk mendapatkan swing-nya namun bersikeras berlatih karena tidak mau kalah dari Sentaro. 

Ada juga tentang kisah percintaan antar anak SMA yang terkesan “tarik ulur”. Misalnya kisah segitiga antara Sentaro, Yurika, dan Abang Jun. Tapi juga ada bumbu manis romansa dalam kisah ini, seperti saat Kaoru menyatakan cintanya kepada Ritsuko di halaman depan rumahnya. Tidak lupa pula Kodama Yuki juga memasukkan unsur-unsur agama Nasrani dan nuansa Amerika di tahun 1966 yang masih terlabel tabu di Jepang pada saat itu. Aku sangat mengapresiasi baik akan riset yang dilakukan oleh mangaka ini dan memasukkannya di tiap detil kisah.

Akhir dari cerita ini sungguh di luar dugaan. Saya merasakan dada saya begitu ringan saat selesai membaca komik ini. Unsur ketuhanan dan musik yang kental di akhir cerita membuat saya paham akan keeratan hubungan antara musik dan agama, juga moral-moral lainnya yang disampaikan oleh mangaka yang membuat pembacanya (dan aku) tersenyum meresapi maknanya. Kalau saya bisa deskripsikan, membaca komik ini dari awal sampai akhir membuatku tertawa geli, terhenyuh, sekaligus tersentuh sampai kata “awwww~~” terlontar.

Sakamichi.no.Apollon.full.1071456Bagiku, Sakamichi no Apollon menjadi lebih istimewa ketika diangkat menjadi anime. Gubahan musik jazz yang diramu oleh komposer jazz ulung Yoko Kanno membuat kisah ini semakin sedap.

Beberapa lagu yang aku favoritkan diantaranya Moanin’My Favorite ThingsLullaby of Birdland, dan lagu jazz yang membuat saya berjingkrak, duo Kaoru dan Sentaro saat Bunkasai (My Favorite Things, Someday My Prince Will Come, Moanin’). Sedikit bocoran, ending di anime memang agak sedikit disetir” dari versi aslinya, tapi penilaianku tetap tidak berubah, bahkan sama bagusnya. Inti kisah masih tetap tersampaikan, yaitu “jazzbros never die“.

 

Sakamichi.no.Apollon.full.1069565Aku sangat mengapresiasi baik penerbit Elex Media Komputindo karena sudah menerbitkan buku ini di Indonesia, terutama sang penerjemah Miranti Artarina yang menurutku sudah sangat baik menerjemahkan komik ini sehingga saya merasakan sisi humor melalui diksi yang dipakai (Kaoru yang disebut bocah taoge dan tuan muda bon bon lol. Aku juga suka pendeskripsian Sentaro sebagai “lelaki berdarah panas” kesannya ganteng-ganteng macho hehe).

Beberapa hal yang perlu saya kritisi adalah sampul komik yang didesain kurang gereget sehingga terlihat kurang menarik, terutama di bagian font judul buku. Satu hal lagi yang paling saya sesali adalah penerbit tidak mencantumkan di sampul buku mengenai penghargaan yang diraih oleh buku ini. Sakamichi no Apollon pernah mendapatkan penghargaan di Shogakukan Manga Award ke-57 untuk kategori Umum. Menurutku ini sangat disayangkan karena Sakamichi no Apollon adalah komik yang sangat menarik dari segi cerita, sayang saja rasanya kalau pembeli buku hanya melihat sampul dan mengira komik ini hanyalah kisah percintaan anak SMA biasa.

Intinya, don’t judge the book by its cover. Aku sangat merekomendasikan komik ini dan (kalau bisa) menonton anime-nya juga. Bagi kamu yang menyukai kisah ringan yang “nendang” dengan perpaduan musik jazz dan lelaki berdarah panas, aku sangat menyarankan komik ini untuk kamu. Aku jamin, walau kamu bukan penikmat musik jazz, kau akan menyukai musik genre ini dan berdansa mengikuti alunan swing musik jazz!

 

ps. I know this is manga review, tapi aku mau kasih bocoran dikit buat anime-nya, ini performa Kaoru dan Sentaro waktu di Bunkasai. Yoko Kanno made it! This is my favorite scene hehe..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: